Masjid Besar Hizbullah merupakan salah satu masjid di Malang yang tak hanya berusia tua, namun juga menyimpan sejarah perjuangan santri dalam merebut kemerdekaan Indonesia. Masjid ini merupakan saksi bisu proses kaderisasi para santri Malang Raya yang tergabung dalam Laskar Hizbullah.

Mengutip buku Sejarah Singkat Kecamatan Singosari dan Mengenal Tinggalan Kesejarahannya (2018), Masjid Besar Hizbullah didirikan pada 1907 di atas tanah wakaf milik KH Maksum. Selain dikenal sebagai tokoh agama, KH Maksum juga dikenal sebagai pemilik sebuah industri konveksi di Singosari.

Saat itu namanya masih Masjid Jami’ Singosari dan bangunannya belum sebesar saat ini. Kepemimpinan atas masjid diserahkan beberapa tahun kemudian kepada putra sulungnya, KH Masjkur. KH Masjkur sendiri juga berperan dalam proses kaderisasi Laskar Hizbullah dan Sabilillah serta pendirian Masjid Sabilillah di Kota Malang.

Masjid ini merupakan basis Laskar Hizbullah, himpunan santri yang bertempur merebut kemerdekaan Indonesia. Tak hanya sebagai tempat ibadah dan mengaji, masjid ini dulunya juga berfungsi sebagai tempat kaderisasi dan menyusun strategi perang Laskar Hizbullah yang berperan dalam Perang 10 November di Surabaya dan menghadang kedatangan Belanda ke Malang saat Agresi Militer Kedua.

Bangunan masjid saat ini merupakan hasil renovasi total pada tahun 1996 hingga 1998. Renovasi masjid ini dilakukan dengan tujuan untuk merevitalisasi masjid ini dan menjadikannya sebagai monumen perjuangan Laskar Hizbullah.

Pergantian nama dari Masjid Jami’ Singosari ke Masjid Besar Hizbullah dilakukan setelah renovasi selesai sebagai bentuk penghormatan kepada KH Masjkur dan Laskar Hizbullah. KH Masjkur sendiri ditetapkan sebagai pahlawan nasional oleh pemerintah pada tahun 2019 atas peran beliau dalam membina Laskar Hizbullah dan Sabilillah.

Masjid Besar Hizbullah memiliki empat lantai dengan komposisi basement dan tiga lantai ruang ibadah. Basement merupakan tempat wudhu laki-laki (utara) dan perempuan (selatan). Menara di sisi kanan bangunan utama diadopsi dari bentuk menara Masjid Nabawi dan berwarna kombinasi hijau dan kuning janur.

Bangunan utama sendiri bercat putih dan didominasi kaca-kaca jendela yang menciptakan kesan terbuka. Kaca-kaca yang menjadi pengganti tembok di sisi utara, selatan, dan timur ruang utama ibadah membuat suasana dalam masjid terlihat terang di siang hari. Dinding sisi barat atau kiblat terlihat kontras dengan susunan kayu, list kaligrafi yang membentuk kubah, dan wallpaper hijau.

Mihrab masjid seperti kebanyakan masjid-masjid kuno di Jawa yang memliki tiga sekat. Sekat kanan merupakan mimbar, sekat tengah untuk tempat imam, dan sekat kiri untuk tempat meletakkan kitab dan meja untuk kajian. Ketiga sekat berukir motif floral ini terbuat dari kayu jati dan dilengkapi dengan kubah di atasnya.

Balkon lantai dua dan tiga yang berfungsi sebagai ruang tambahan ibadah tampak berbeda dari umumnya masjid. Bila umumnya masjid memiliki balkon berbentuk huruf U kotak mengikuti bentuk bangunan, maka balkon di masjid ini berbentuk seperti tapal kuda yang melingkar mengikuti bentuk kubah. Kubahnya sendiri berwarna cokelat dengan garis-garis warna hijau dan bintang sembilan di tengahnya.

Lokasi

Terletak di Jalan Masjid No. 26, Kelurahan Pagentan, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, lokasi masjid ini sangat mudah ditemukan. Jika datang dari arah pertigaan Tol Karanglo, lurus saja ke arah utara sampai menjumpai pendopo Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Malang lalu belok kiri ke Jalan Masjid. Jika datang dari arah Lawang, maka lurus saja ke arah selatan sampai menjumpai Pasar Singosari lalu putar balik di ujung taman jalan.

Akses menuju masjid ini juga sangat mudah. Jasa ojek online dan angkutan kota (angkot) bertrayek LA (Lawang-Arjosari) siap mengantar Anda menuju masjid ini. Jika datang dari arah Lawang, bisa turun di depan Pasar Singosari dan menyeberang lewat jembatan penyeberangan di depannya. Tersedia parkir yang sangat luas bagi pengunjung yang membawa kendaraan pribadi.

Akomodasi

Penginapan terdekat yang direkomendasikan untuk pengunjung masjid ini adalah Solaris Hotel di Jalan Raya Karanglo No. 64. Tarifnya mulai dari Rp254.544,00 per malam. Penginapan lainnya yang direkomendasikan adalah Fariz Hotel di Jalan Perusahaan Raya, No.57 dengan tarif per malam mulai Rp245.613.

Tempat makan dengan harga bersahabat di kantong yang bisa direkomendasikan adalah Orem-Orem Bapak Mahmudi yang berlokasi sekitar 130 meter dari bibir Jalan Masjid dan Bakso Mbah’e Solo Hj. Ris’ah di sebelah selatan Pesantren Ilmu Quran. Orem-Orem Bapak Mahmudi menawarkan menu khas Malang itu dengan harga per porsi Rp9.000. Bakso Mbah’e Solo menawarkan bakso Solo dengan harga per porsi Rp15.000 dan rawon seharga Rp20.000.

Back To Top